Apa Perlu GMT ke MMT ?

Posted on 16 October 2008. Filed under: Catatan PAI | Tags: |

Artikel lama ini dimasukkan untuk melengkapi arsip kajian perlu tidaknya umat Islam menggunakan Mekkah Mean Time untuk keperluan ibadahnya. Secara singkat tidak perlu. Mekkah Mean Time (MMT) atau Ka’bah Universal Time (KUT) bisa menambah kerumitan baru antara Universal Time yang benar telah diterima universal dengan Ka’bah Universal Time yang hanya bersifat “universal” semu kelompok tertentu.
Berikut copy artikel tersebut :

Waktu Ibadah, perlukah Waktu Mekkah?

Antara Kalender Gregorian, waktu Ibadah, dan Waktu Ka’bah

Dr. T. Djamaluddin

Dr. T. Djamaluddin

Oleh : T. Djamaluddin
Peneliti Utama Astronomi Astrofisika – LAPAN,
Anggota Badan Hisab Rukyat Depag RI

Ada teman yang memforward pertanyaan terkait dengan diskusi waktu ibadah dan usulan untuk menggunakan KUT (Ka’bah Universal Time) atau pada kesempatan lain diusulkan Mekkan Mean Time (MMT) untuk menggantikan GMT (Greenwich Mean Time) atau UT (Universal Time) yang saat ini digunakan. Kalender Gregorian pun dianggap bermasalah dalam kaitan dengan waktu ibadah Jumat. Berikut tanggapan singkat saya.

Pertama, tidak ada masalah dengan kalender Gregorian. Islam menghargai dua sistem kalender, karena baik matahari maupun bulan beredar berdasarkan perhitungan. Baca QS. 10: 5 “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak” dan QS. 55:5 “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan”. Hanya saja untuk keperluan ibadah, Allah dan Rasulul-Nya mengajarkan untuk untuk melihat hilal, sebagai cara termudah melihat pergantian tanggal.

Kedua, tidak ada masalah juga pada GMT (Greenwich Mean Time) atau UT (Universal Time) karena itu hanya berdasarkan definisi agar pergantian hari matahari terjadi di wilayah tanpa penduduk di Pasifik. Kalau diganti dengan Ka’bah Universal Time, harus disepakati secara universal, bukan hanya ummat Islam agar sifat universal benar adanya. Tentu saja harus ada alasan logis. Secara astronomis, tidak ada keuntungan mengubah UT menjadi sistem waktu universal lainnya, karena posisi pergantian hari harus diperhitungkan. Selain itu, mengubah sistem dari UT ke KUT hanyalah mengubah konversi waktu saja (plus atau minus sekian jam) yang tidak bermakna hakiki.

Ketiga, harus disadari bersama persoalan waktu ibadah adalah persoalan waktu lokal. Baca QS. 17:78 “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” dan QS. 62:9-10 “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” Waktu shalat ditentukan berdasarkan ketampakan matahari. Shalat Jumat pun di tentukan berdasarkan waktu lokal. Kalau mengikuti waktu shalat Jumat di Mekkah, waktu kerja (mencari karunia Allah) bisa-bisa sudah malam hari saat orang beristirahat.

Ke-empat, masalah hari Jumat. Di manakah pergantian hari yang terbaik? Sistem sekarang dengan pergantian hari di garis tanggal di Pasifik adalah cara yang paling optimal. Pemisahan hari terjadi di wilayah yang terpisah luas oleh lautan. Jadi hari Jumat berawal dari Pasifik Barat, lalu ke Asia Timur & Australia, Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, Eropa & Afika, berakhir di benua Amerika. Shalat Jumat dilakukan sesudah tengah hari menurut waktu lokal. Soal pergantian hari sejak maghrib, tidak masalah, karena itu hanya mengikuti pada penentuan awal tanggal yang bermula saat rukyatul hilal saat maghrib.

Jadi, kesimpulannya tidak perlu ada KUT. KUT bisa menambah kerumitan baru antara Universal Time yang benar telah diterima universal dengan Ka’bah Universal Time yang hanya bersifat “universal” semu kelompok tertentu.

copy dari : Dokumentasi T.Djamaluddin

Make a Comment

Make a Comment: ( 2 so far )

blockquote and a tags work here.

2 Responses to “Apa Perlu GMT ke MMT ?”

RSS Feed for Catatan Belajar Comments RSS Feed

Maaf sebelum konvensi 1883 tentang penetapan GMT, umat islam sudah terbiasa menggunakan hari jumat setelah mekkah sholat jumat, tapi skg umat islam harus sholat jumat mendahului mekkah sebagi pusat kiblatnya. dan saya pernah mendengar dari beberapa ulama, bahwa pintu-pintu doa dilangit hanya akan dibuka pada hari-hari dan jam-jam yang sudah dikehendaki oleh Allah, termasuk hari jumat sebagai penghulu hari, nah, kalau kita memulai duluan sebelum mekkah melakukannya berarti kita masih hari kamis, mengapa semua pergerakan di alam semesta ini selalu berlawan dengan jarum jam, atau jarum jam yang berlawanan dengan arah kebenaran????, doa yang paling makbul adalah doa di sekitar kabah, dan tempatnya adalah di multazam, tapi tidak semua orang yang berdoa disitu terkabul doanya, karena hanya diwaktu2 tertentu saja pintu2 langit dibuka oleh Allah SWT…..maaf manusia pertanggungjawabannya kepada Allah dengan menepati janji-janjinya dengan tepat….wallahu a’lam

Dalam kalender Gregorian (Masehi), membagi waktu dunia menjadi dua bagian dengan menetapkan garis tanggal international 0* pada Greenwich dan 180* pada selat Bosporus (antara Rusia Canada). Penggantian Tanggal harian ditetapkan pada jam 00:00 pada Meridian 180*.
Penetapan garis tanggal International diprakarsai oleh Stanford Fleming (Canada) dan Charles F Down (Amerika) pada tahun 1883 dan disyahkan sebagai sistim tata waktu international dalam suatu konvensi pada tahun 1885. Maka sejak saat itu dunia *terbelah dua* dengan latitude 0* ~ +180* sebagai Bujur Timur dan 0* ~ -180* sebagai Bujur Barat. Maka sejak itu kita mengenal negara-negara Barat dan Negara-negara Timur.

Dalam proyeksi perjalanan matahari dari Timur ke Barat, maka negara negara yang berada pada merian 0* ~ +180* akan mendahului 1 hari dibandingkan dengan negara-negara Barat yang ada pada meridian 0* ~ -180*. Lalu apa akibatnya ?
Ka’bah yang terletak pada meridian +40* BT dan Indonesia yang terbentang dari meridian +94* ~ +141* BT (bujur Timur) memiliki selisih waktu 4 ~ 6 Jam (15* meridan per jam). Dimana Indonesia (jakarta) mendahului 4 jam lebih awal dibandingkankan waktu di Ka’bah (Mekkah). Sehingga (misalnya) kita melakukan Shalat Ied pada pagi hari jam 7:00 maka Umat muslim di Mekkah masih melakukan Takbir atau masih ada yang terlelap tidur (jam 3:00 dinihari.) Jika mengacu pada QS Al Imran ayat 96
“Inna Awwala baitin wudi’a linnasi lallazina bibakkata mubarakhan wahudan lil ‘alamnin”.
{sesungguhnya rumah mula-mula dibangun untuk (tempat ibadat) manusia, ialah Baitullah yang ada di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua umat manusia).
Dan bilamana surat diatas kita gandeng dengan Surat Al Hujurat ayat 1 (QS 49:1) “Ya ayyuhal ladzina aamanu tuqqadimu baina yadayillahi wa rasuullihi wattaqullaha innallaha sami’un ‘aliim.
(Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan mengetahui).
maka secara jelas bahwa umat muslim yang berada disebelah timur Mekkah (meridian > 40* BT ~ 180* BT) MENDAHULUI melakukan ibadah Maddah dan bertentangan dengan sunnah Rasul.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir , Ibnu Abu Dunya meriwayatkan pada kitab Al Adhahi, dimana Rasullulah membatalkan ibadah penyembelihan hewan Qurban karena mereka melakukan penyembelihan hewan Qurban sebelum Rasulullah melakukanya. Dan memerintahkan mereka mengulangi penyembelihan Hewan Qurban setelah beliau melakukan penyembelihan. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Tabhrani dalam kitab Al Ausath.
Jelasnya kita bisa terkecoh, manakala Kalender Gregorian (Masehi) sebagai petunjuk tanda waku ibadah Maddah karena kita akan selalu mendahului menjalankan shalat sebelum Shalat yang sama dilakukan di Baitullah Mekah pada hari yang sama………dulu kita tidak terbiasa dengan kalender yang seperti skg ini, tapi segala sesuatu ibadah selalu berawal dari mekkah, setelah itu kita (indonesia) akan melakukannya esok hari, selisih 20 jam dari mekkah…..saya yakin kalau umat islam menjadikan mekkah sebagai titik tolak ibadah, maka tentunya tidak akan ada perbedaan idul adha idul fitri dan hari2 ibadah lainnya yang dikehendaki oleh Allah SWT….


Where's The Comment Form?

  • Archives

  • Liked it here?
    Why not try sites on the blogroll...