Benchmark Pengelolaan Pondok Bersalin Gratis
Sungguh pelayanan seorang pemimpin yang hebat. Semoga Pak Lurah ini selalu dalam lindungan Allah swt, diberi petujunjuk dan makin dicintai rakyat. Berikut pemberitaan jawapos 3 Juni 2009 :
M. Khoirun, Kades Bendosari Bikin Gebrakan Polindes Gratis
Pendapatan Polindes dari Uang Pribadi, Setornya ke Pemkab
Meski baru menjabat sebagai Kades Bendosari, Pujon, sekitar dua tahun, Khoirun berani mencetuskan program polindes (pondok bersalin desa) gratis bagi warganya. Munculnya program tersebut disambut antusiasme warga. Bahkan, kini banyak warganya yang beralih berobat dari puskesmas ke polindes.
Eko Agus Prasetyo
—
Usia Khoirun terbilang muda. Tepatnya baru 34 tahun. Gaya bicaranya ceplos-ceplos. Dengan mengenakan peci dan jaket warna hitam, Khoirun terlihat lebih gagah. Ketika ditemui Radar di kantor Desa Bendosari Jumat lalu (30/5), pria kelahiran Kediri 19 Agustus 1975 itu terlihat santai.
Suami Sri Hartini ini kemudian mengajak melihat ruang polindes yang berada di samping kanan kantor desa. Kantor polindes yang beroperasi sejak 1994 itu itu terlihat bersih. Di ruangan dengan ukuran 3,5 x 8 meter itu terdapat satu meja untuk bidan desa yang di atasnya terdapat peralatan, seperti, alat tensi darah dan beberapa buku, almari obat, satu tempat tidur untuk pasien, ruang persalinan, serta alat timbang badan.
Dengan ditemani bidan desa, Yunita Dwi Handayani, Khoirun menceritakan ide awal mencetuskan program polindes gratis. Gagasan itu muncul dari rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan.
Ini terlihat dengan rendahnya minat warga yang berobat ke polindes atau puskesmas. Bahkan, ada beberapa kasus warganya yang meninggal hanya karena masalah sepele, yakni tekanan darah tinggi atau kecapekan. Itu terjadi, karena warga jarang periksa kesehatan ke puskesmas.
Ditambah lagi sejak ada perda kenaikan biaya berobat ke puskesmas dari Rp 1.500 menjadi Rp 5.000 pada awal 2009 lalu. Tarif berobat polindes juga ikut menyesuaikan. Biaya tersebut hanya berlaku jam dinas, yakni pukul 07.00 – 14.00. Di luar jam itu, biayanya semakin mahal. Bisa mencapai Rp 15 ribu sekali periksa.
Apalagi menilik data jumlah penduduk Desa Bendosari sebanyak 1.101 KK, sebagian besar merupakan miskin. Data 2008, jumlah warga miskin mencapai 517 KK. Sehingga biaya untuk makan sehari-hari jauh lebih penting daripada untuk biaya berobat. “Jujur saja, kenaikan biaya berobat tersebut semakin membuat warga semakin enggan berobat ke polindes,” ujar Khoirun.
Melihat kondisi itu, dia mencari terobosan baru agar masyarakat bisa peduli terhadap kondisi kesehatannya. Setelah berkoordinasi dengan perangkat desa, akhirnya muncul gagasan program polindes gratis. Gagasan itu kemudian dirapatkan dengan warga desa, hingga akhirnya disetujui. Sedangkan pendanaannya dari sharing antara APBDes dan uang pribadinya.
Gayung bersambut. Program yang dibuka awal tahun ini langsung direspons positif masyarakat. Masyarakat pun kini mulai beralih dari berobat ke puskesmas atau balai pengobatan di sekitar Pujon ke polindes. Apalagi untuk berobat ke puskesmas harus menempuh perjalanan sepanjang tujuh kilometer. Sehingga ongkos perjalanannya juga lumayan besar.
Bidan Desa Yunita Dwi Handayani mengungkapkan, sejak digulirkannya program polindes gratis, warga yang sebelumnya enggan berobat ke polindes kini banyak yang datang berobat. Warga mulai peduli dengan memeriksakan kondisi kesehatannya. Meski pun hanya sekadar cek tensi darah setiap bulan sekali. “Kebanyakan mereka adalah warga yang umurnya sudah lansia,” katanya.
Dari data yang ada, jika sebelum adanya program polindes gratis per bulan jumlah warga yang berobat ke polindes hanya sekitar 15-25 orang. Jumlah itu meningkat drastis menjadi 70-80 orang per bulan. Selain karena sakit, warga ke polindes untuk persalinan. “Semoga saja ini bisa terus berlanjut. Hingga masyarakat sadar untuk rajin kontrol ke polindes,” terang Yunita.
Meski biaya berobat diambilkan dari dana sharing APBDes dengan uang pribadi Khoirun, namun sejak program tersebut diberlakukan hingga pertengahan 2009 ini, semuanya masih ditanggung Khoirun. Sebulan sekali Khoirun menyetorkan “pendapatan” polindes ini ke Pemkab Malang. “Saat ini dana desa masih digunakan untuk pembangunan kantor,” ujar Khoirun.
Sedangkan pengeluaran untuk menanggug biaya berobat warganya ini antara Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. “Semua tetap dihitung sesuai prosedur,” tambahnya. Khoirun sendiri tidak mempermasalahkan uang pribadinya. Semua itu dilakukan karena dorongan hati nuraninya untuk meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya kesehatan.
Keberanian Khoirun menciptakan program polindes gratis juga mendapat acungan jempol dari Camat Pujon Abdul Matin. Dia menilai kebijakan yang dibuat Kades Bendosari itu merupakan langkah yang patut ditiru oleh kades yang ada di wilayah Kabupaten Malang.
Karena program tersebut merupakan program yang sangat menyentuh langsung dengan kehidupan masyarakat terkait pelayanan kesehatan. “Setahu saya program ini kali pertama di Kabupaten Malang,” tutur mantan Sekcam Donomulyo ini.
Salah satu warga, Slamet merasa bersyukur dengan adanya program polindes gratis. Karena dengan program tersebut, dirinya merasa tidak perlu jauh-jauh lagi berobat ke puskesmas. Apalagi obatnya juga gratis. “Saya berharap polindes ini kelak setara dengan puskesmas,” harapnya. (*/ziz)