Kesalahan Geometri pada Jembatan Kuker
Pembangunan Jembatan Kutai Kertanegara (Kuker), Kalimantan Timur, mengandung kesalahan pada geometri sistem sambungan. Hal inilah, menurut hasil kajian Tim Investigasi Lapangan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang menimbulkan stres konsentrasi ketika kelebihan beban. Puncaknya, jembatan yang membentang sepanjang hampir satu kilometer di atas Sungai Mahakam, Tenggarong, Kabupaten Kuker, itu ambruk pada 26 November lalu dan menimbulkan 23 orang tewas dan puluhan kendaraan tenggelam.
Kesalahan berikutnya pada jembatan yang dibangun 10 tahun silam oleh PT Hutama Karya dan diawasi PT Bukaka itu adalah material sambungan yang getas atau tidak ulet. Material untuk sistem sambungan antara hangger (penggantung) dan kabel utama terbuat dari besi cor dari yang seharusnya berbahan baja.
Selain itu, terdapat juga kesalahan metode perbaikan ketika jembatan tersebut melengkung. Yaitu, perbaikannya dengan cara dinaikkan, padahal belum diketahui penyebab turunnya konstruksi jembatan.
“Posisi baut stopper pada bagian bawah penggantung dinaikkan untuk re-cambering jembatan. Akibatnya, terjadi pemusatan beban pada penggantung tersebut dan pin klem penggantung ke kabel utama patah,” ungkap Sudarmadi, ketua Tim Investigasi Lapangan BPPT, seusai Refleksi Akhir Tahun BPPT di Jakarta, Selasa (27/12).
Setelah penggantung yang mengalami pemusatan beban gagal, lanjut Sudarmadi, penggantung tersebut menerima limpahan beban dari penggantung lainnya ditambah beban kejut. Akibatnya, pin klem penggantung ke kabel utama patah juga dan demikian seterusnya sehingga rangka jembatan baja runtuh seluruhnya.
Menurut dia, seharusnya ketika terjadi penurunan, keenam penggantung secara bersama diangkat kemudian dipasang sensor-sensor agar diketahui tegangan yang terjadi di penggantung. Dari sampel bekas patahan pin yang ditemukan, bisa diketahui kekuatan dari jembatan dalam menanggung beban yang terus-menerus, adakah cacat bawaan dari desain ataukah terdapat korosi pada sistem sambungannya.
Deputi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Ridwan Djamaluddin menambahkan, BPPT juga telah meminjamkan peralatan sonar dan multibeam echosounder dalam melakukan survei bawah air di runtuhan Jembatan Kuker.”Tanpa alat ini, tim penyelamat korban tak bisa berbuat banyak dan seperti tak memiliki mata di tengah air keruh di kedalaman 40 meter,” katanya seperti dikutip Antara.
(-)by Asep Nur Zaman
sumber : republika
