Menyongsong Gelombang Keempat

Posted on 5 January 2012. Filed under: Catatan Berita, Lain-lain | Tags: , |

Republika – Kamis, 05 Januari 2012

Oleh Harun Husein

Jika Mesir berhasil menjadi negara demokratis, keterbukaan politik di dunia Arab diprediksi akan berlanjut.

Sudah setahun musim bunga menerjang dunia Arab. Mulai dari tanduk Afrika hingga ke ujung Jalur Sutra di Damaskus. Sejauh ini, sudah empat autokrat yang terguling dari kekuasaannya yang digambar kan telah berurat berakar. Meski demikian, banyak pihak di Barat maupun Timur, masih mencermati gelombang perubahan ini: apakah benar akan menjadi gelombang keempat demokratisasi (the fourth wave), atau bukan.

Autokrat yang telah tumbang adalah Presiden Tunisia, Zine Al Abidin Ben Ali, yang berkuasa selama 23 tahun, disusul Pre siden Mesir, Husni Mubarak yang berkuasa 32 tahun. Gelombang itu lalu mengarah ke barat menghantam Presiden Lib ya, Muammar Khadafi, yang telah men jadi orang nomor satu negeri itu se lama 42 tahun. Selanjutnya, berbalik lagi ke timur, melengserkan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, yang telah 33 tahun bertahta.

Angin perubahan itu belum berhenti, dan masih menari-nari di atas Suriah, mengancam kedudukan Presiden Bashar Al Assad. Sekretaris Jenderal Partai Baath itu, mewarisi kekuasan dari ayahnya, Hafez Al Assad, yang meninggal pada tahun 2000 lalu. Sebelum berkuasa selama tiga dekade, Hafez Al Assad adalah menteri pertahanan Suriah. Dia mengambil alih kekuasaan melalui kudeta tak berdarah, pada November 1969 lalu.

Pasca berbagai peristiwa penggulingan penguasa itu, kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara berubah wajah menjadi lebih demokratis. Setidaknya demikian dikonfirmasi oleh peningkatan skor demokrasi negara-negara tersebut dalam laporan Indeks Demokrasi 2011 yang dilansir oleh Economist Intelligence Unit (EIU). Sebuah denyut baru di tengah kelesuan dan kemunduran demokrasi global, pascaberakhirnya gelombang ketiga demokratisasi.

Samuel Huntington, dalam The Third Wave; Democratization in the Late Twen -tienth Century (1991), melacak adanya ti ga gelombang demokratisasi yang per nah melanda dunia. Gelombang pertama terja di pada 1828-1926, dipicu revolusi industri, revolusi Prancis, dan revolusi di Ame ri ka Serikat. Pada gelombang ber du rasi se abad ini, negara-negara demokratis mun cul di Amerika utara dan Eropa Ba rat, serta memengaruhi Eropa timur dan selatan.

Gelombang kedua terjadi pada 1943-1962, dipicu kemenangan sekutu atas Jerman, Italia, dan Jepang, serta dekolonisasi. Adapun gelombang ketiga terjadi pada 1974, diawali Revolusi Bunga di Portugal, yang menjalar ke Yunani, Spanyol, Amerika Latin, dan Asia. Gelombang ketiga ini diakselerasi oleh berakhirnya Perang Dingin dan runtuhnya Tembok Berlin. Gelombang ketiga diduga berakhir awal 2000-an. Setelah itu yang terjadi adalah stagnasi, bahkan kemunduran.

Dalam tiga gelombang demokratisasi ini, negara-negara Islam —terutama di Timur Tengah dan Afrika Utara— bak ter luput kan. Saat negara-negara lain berubah demokratis, serta menghargai kebebasan dan hak asasi, negara-negara Islam justru dipimpin oleh para diktator, baik dari kalangan militer, partai tunggal, maupun monarki absolut. Di bawah rezim-rezim yang kerap memakai label Islam ini, kekuatan Islam justru mendapat represi.

Barulah setelah revolusi melati ber hembus dan keran demokrasi dibuka, ke kuatan Islam yang tiarap selama beberapa dekade, bisa tampil ke panggung kekuasa an dengan cara elegan, melalui pemilihan umum yang bebas dan damai. Pesta de mok rasi di Tunisia, Maroko, hingga Mesir, diikuti dengan antusias. Setidaknya, di tun jukkan oleh tingginya partisipasi pe milih (voters turn out), sehingga memberi legitimasi lebih besar kepada penguasa baru.

Dalam laporan Indeks Demokrasi 2011 yang bertajuk “Democracy Under-Stress”, EIU menyatakan revolusi di dunia Arab, berlangsung secara luar biasa, dan telah mem beri perubahan penting dalam de -mokrasi di dunia. Apalagi, demokratisasi itu terjadi di kawasan yang semula tak diperkirakan. Banyak kalangan, menurut EIU, memperkirakan gerakan perubahan menuju demokrasi di dunia Arab sepanjang 2011, sebagai sebuah gelombang demokratisasi baru.

Meski demikian EIU menyatakan revolusi yang terjadi di Tunisia dan Mesir, rupanya tak mudah diulangi di negara mana pun. EIU menegaskan bahwa sejumlah negara otokrasi di Timur Tengah dan Afrika Utara, meresponsnya dengan melakukan perubahan yang bersifat kosmetik. EIU juga menunjuk perubahan di Bahrain yang melemah, dan sikap Al Assad yang diduga akan mendekap kekuasaan, apapun ongkosnya.

“Sehingga demokrasi tetap dalam prospek yang tak pasti.” Meski demikian, Presiden National Endowment for Democracy, Carl Gershman, tetap optimistis. Bahkan, dia memper kirakan dampak perubahan di dunia Arab, bisa lebih besar ketimbang yang terjadi pada 1989, ketika rezim-rezim otoriter di negara-negara bekas Uni Soviet dan Eropa timur bertumbangan, diganti rezim demokratis.

“Saya pikir ada kemungkinan terjadinya gelombang baru demokratisasi,” katanya seperti dikutip Democracy Digest. Ali Sarihan dari Department of Govern ment Universitas Georgetown, juga menduga revolusi di dunia Arab bisa di jadikan pertanda semakin dekatnya ge lombang keempat demokratisasi. Jika Arab Spring bisa menyelesaikan gerakan demokratisasinya, dan tidak terjebak pada neofundamentalisme, Ali Sarihan yakin negara-negara Muslim akan segera bertransformasi menjadi bagian dari dunia modern yang demokratis, seperti halnya Indonesia, Turki, dan Malaysia.

Gelombang keempat demokratisasi itu, kata Ali Sarihan, akan melanda negara-negara Islam dan komunis, yang saat ini me ngalami defisit demokrasi. Negara-ne gara Islam dan komunis, kata dia, memiliki populasi dan kekuatan ekonomi besar, serta lokasi strategis. Sehingga, demokratisasi di negara-negara ini, berpeluang menciptakan perubahan besar di muka bumi.

Larry Diamond, ilmuwan politik dari Uni versitas Stanford, dalam artikelnya Turbulence in the Fourth Wave, yang diterbitkan Hoover Digest, 12 Oktober 2011 lalu, melihat keterbukaan politik yang ter jadi di Arabmenyusul terjadinya revolusi dengan cepat kembali tertutup. Tapi, dia berharap terobosan dapat terjadi melalui Mesir, negara Arab berpenduduk ter besar, dan terbukti memiliki pengaruh dominan di dunia Arab.

Huntington pernah menyatakan, bahwa eksistensi sebuah negara yang berhasil men jadi demokratis, mempunyai efek do mi no (regional contingency factor) untuk mendemokratisasi negara-negara lain di sekitarnya. Dan jika Mesir yang pada de kade 1950-an hingga 1960-an sukses me nularkan virus kudeta ke negara-negra Arab seperti Libya, Irak, Suriah, Aljazair, dan lain-lain berhasil melalui pemilu dan menjadi negara demokratis, demokra si di negara-negara Arab diprediksi akan lebih prospektif.

Mesir, kini telah menggelar tiga putaran pemilu untuk memilih anggota majelis rendah. Masih ada dua pemilu lagi yang harus dirampungkan negara itu hingga pertengahan tahun ini, yaitu pemilu majelis tinggi dan pemilu presiden. Perhelatan demokrasi yang masih dibayang-bayangi kekhawatiran terhadap militer yang saat ini memimpin pemerintahan transisi. Betapa tidak, militer kerap menjadi kekuatan yang membajak demokrasi.

(-)
sumber : republika.co.id

Advertisement

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.