Catatan PAI

Penyatuan Kalender Islam Tantangan Dunia Astronomi, Fuqaha dan Ahli Rukyat

Tulisan ini merupakan arsip artikel yang dimuat di Republika 7 Juni 2000. Karena link artikelnya belum didapat, maka artikel tersebut dituamgkan semua. Semoga bermanfaat.

—————

Oleh : Moedji Raharto
Staf Akademik UPT Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung

Walaupun pergantian bulan Islam ditentukan oleh visibilitas hilal dan pergantian hari dan tanggal oleh terbenamnya matahari, keduanya dapat berjalan seiring. Hal ini perlu disadari bahwa sistem penanggalan Islam mempunyai suatu fondasi yang kuat untuk bisa mendudukkan kompleksitas alam berjalan seiring bagi keperluan praktis. Persoalan daerah khusus yang tidak dapat mengamati fenomena terbenam matahari atau tanpa matahari dapat diatasi melalui kesepakatan penetapan pergantian hari dan tanggal seperti di kawasan di dekatnya.

Penampakan hilal dimungkinkan berlangsung di antara dua waktu shalat yaitu Maghrib dan Isya. Hal ini terjadi karena penampakan hilal berlangsung relatif dekat (hukumnya lebih dari 14 jam setelah ijtimak) dengan waktu berlangsungnya ijtimak. Besar kecilnya pemisahan bujur ekliptika bulan dan matahari setelah ijtimak bergantung pada kedudukan bumi terhadap matahari dan kedudukan bulan terhadap bumi. Apabila bumi berada dekat dengan titik perihelion (titik terdekat dengan matahari yang dicapai sekitar tanggal 2 Januari) dan bulan di titik apogee maka pemisahan itu berlangsung lebih lambat dibanding bila kedudukan bumi di aphelion titik terjauh dari matahari dan bulan berada di perigee. Bulan bergerak dengan kecepatan 0.625 derajat per jam ke arah timur pada saat di perigee dan 0.5 derajat pada saat di apogee. Pada waktu berlangsungnya ijtimak posisi bulan dan matahari di langit berdekatan.

Rata-rata pada bulan Januari bujur ekliptika matahari berpindah 1 derajat per hari ke arah timur atau sekitar 0.1 derajat lebih cepat dibanding dengan saat posisi bumi terhadap matahari pada bulan Juli. Saat ijtimak berlangsung bujur ekliptika bulan dan matahari sama. Secara ringkas lokasi bulan terbenam dalam daerah 5 derajat dari lokasi matahari terbenam. Mengingat fakta tersebut sangat logis bila visibilitas hilal dipergunakan sebagai acuan pergantian bulan hijriah karena visibilitas hilal berlangsung pada waktu bersamaan dengan pergantian tanggal dan pergantian hari Qamariah. Hilal dikenal sebagai bulan sabit yang pertama kali bisa dikenali oleh mata bugil setelah ijtimak. Hilal yang dapat dikenali oleh mata bugil itu berukuran tertentu sehingga dapat disaksikan oleh mata bugil manusia di antara dua waktu, Maghrib dan Isya. Selain itu fenomena visibilitas hilal dapat disaksikan dalam suatu kawasan yang luas, suatu kawasaan di permukaan bumi yang masih bisa menyaksikan terbit dan terbenam bulan dan matahari. Oleh karena itu kalendar tersebut juga mengandung unsur universal bagi manusia di planit bumi. Jadi keberadaan kalender hijriah lebih memfokuskan manusia untuk mengenal siklus penampakan dan peredaran bulan di langit.

Pergantian hari dalam penanggalan hijriah adalah Maghrib. Bila pada Maghrib awal Ramadhan disaksikan hilal maka shalat tarawih awal Ramadhan segera diselenggarakan setelah shalat Isya dan shaum Ramadhan diselenggarakan dari terbit fajar subuh (keesokan hari menurut kalender Syamsiah) hingga terbenam matahari. Kemudian setelah matahari terbenam disusul dengan Maghrib, tanggal dan hari berganti menjadi tanggal kedua bulan Ramadhan dengan hari yang menempati urutan berirkutnya dan seterusnya. Satu hari Hijriah di suatu tempat berlangsung dari Maghrib ke Maghrib berikutnya. Satu hari Hijriah berada dalam dua hari Syamsiah. Jadi menurut Hijriah 1 Ramadhan 1420 di Indonesia bertepatan dengan hari Rabu (Syamsiah) setelah Maghrib bersambung tengah malam hingga terbit fajar hari Kamis (Syamsiah) hingga terbenam matahari atau Maghrib pada hari Kamis. Padahal pada penanggalan Hijriah 1 Ramadhan 1420 H setelah Maghrib telah berlangsung pada hari Kamis (Hijriah). Akhir Sya’ban 1420 H berlangsung pada hari Rabu. Hal ini bisa terjadi karena pergantian hari dalam kalender Syamsiah hanya bergantung pada bujur suatu tempat di permukaan bumi, sedang pergantian hari dalam sistem kalender Qamariah bergantung pada lintang dan bujur suatu tempat.

Pergantian hari dan tanggal dalam kalender Syamsiah bergantung pada kulminasi bawah matahari rata-rata. Matahari rata-rata adalah matahari yang ada hanya dalam konsep dan berkelakuan secara rata-rata selang waktu total peredaran tahunan maupun hariannya di langit sama dengan matahari sebenarnya. Sedang pergantian hari dan tanggal dalam sistem Qamariah bergantung pada waktu Maghrib di suatu tempat berbeda, bergantung pada lintang dan bujur tempat di permukaan bumi mempunyai regularitas tahunan (kalender Syamsiah). Karena regularitas posisi matahari digambarkan melalui siklus tahun tropis, selang waktu antara matahari pada kedudukan searah dengan titik Aries dan waktu matahari searah dengan titik Aries berikutnya. Kira-kira posisi matahari pada tanggal hari ini sama dengan posisi matahari pada tanggal yang sama 4 tahun silam, angka 4 sebenarnya karena tahun kabisat, tahun yang habis dibagi empat. Untuk posisi matahari pada tahun 2100, karena tahun 2100 bukan tahun kabisat secara prinsip dapat mengacu posisi matahari 400 tahun yang silam. Jadi posisi matahari tahun 2100 akan mirip dengan posisi matahari pada tahun 1700.

Akhir-akhir ini ada gagasan tentang penggunaan ”hilal global” sebagai suatu alternatif penyatuan kalender Islam. Hilal global adalah hilal yang dapat disaksikan di suatu tempat untuk seluruh dunia, di timur atau di barat garis pemisah pergantian tanggal tempat menyaksikan hilal tersebut. Implikasinya adalah mengganti tanggal pada bagian timur garis pemisah sehari lebih cepat dan menyeragamkan (tanggal 1) awal bulan pada hari yang sama. Walaupun perbedaan waktu di suatu tempat dengan tempat lain yang terjauh di timur dan di barat adalah lebih atau kurang 12 jam, namun selang waktu Isya ke subuh di lintang yang lebih besar dari 30 derajat (misalnya di negeri Belanda) atau lebih kecil dari -30 derajat (misalnya di Australia) bisa kurang dari 6 jam.

Dilema yang muncul bila sistem hilal global dipergunakan sebagai acuan adalah pada awal dan akhir ibadah shaum, di bagian timur garis pergantian bulan umat Islam akan berpuasa sebelum waktunya (hilal penentu awal shaum belum ada). Bila awal shaum menunggu pengamat bagian barat dapat melihat hilal, berarti sebagian umat Islam di sebelah timur akan memulai puasa selepas fajar subuh bahkan setelah terbit matahari. Sebaliknya bisa terjadi sebagian Muslim di barat memulainya selepas fajar subuh sehari sebelumnya, bila hilal telah berhasil diamati di bagian timur garis tanggal. Kemungkinan lainnya sebagian Muslim di timur akan menghentikan tarawih saat mendengar berita bahwa hilal penentu awal Syawal berhasil diamati di bagian Barat. Mungkin masalah praktis yang akan dihadapi dalam menjalani ibadah shaum dapat diatasi apabila hilal global dipergunakan sebagai acuan pergantian bulan Hijriah. Sistem hilal global berarti mempergunakan konsep pergantian bulan Hijriah pada hari dan tanggal yang sama pada tiap bulan Islam. Keuntungan konsep ini selain menyeragamkan awal bulan Islam pada tanggal dan hari yang sama.

Jumlah hari dalam satu bulan Islam menurut Hisab Hakiki maupun Imkan Rukyat tidak selalu sama untuk seluruh kawasan di permukaan bumi. Konsep penyeragaman awal bulan pada tanggal dan hari yang sama juga dipergunakan dalam penanggalan Syamsiah dan sistem Hisab Urfi. Sistem Hisab Urfi berdasarkan siklus rata-rata sinodis bulan (29.53059 hari), selang waktu bulan pada fase yang sama, misalnya dari fase konjungsi atau ijtimak ke fase konungsi atau ijtimak berikutnya. Siklus ini mirip dengan siklus rata-rata dua penampakan hilal. Dalam sistem hisab urfi jumlah hari dalam satu bulan Islam, ditetapkan bergantian 30 hari dan 29 hari. Jumlah hari dalam bulan Ramadhan selalu 30 sedang bulan Dzulhijjah bisa 29 atau 30 hari bergantung pada tahun kabisat, atau basit.

Secara keseluruhan bulan Muharram terdiri dari 30 hari, Safar 29 hari, Rabi’ul awal 30 hari, Rabi’ul akhir 29 hari, Jumadil awal 30 hari, Jumadil akhir 29 hari, Rajab 30 hari, Sya’ban 29 hari, Ramadhan 30 hari, Syawal 29 hari, Zulkaedah 30 hari dan Zulhijjah 29 (untuk tahun basit) atau 30 (untuk tahun kabisat) hari. Tahun kabisat ditetapkan untuk tahun yang bila dibagi 30 bersisa 2, 5, 7, 10, 13, 16 (atau 15), 18, 21, 24, 26 atau 29 (dalam 30 tahun terdapat 11 tahun kabisat [355 hari] dan 19 tahun basit [354 hari]); awal penanggalan bersesuaian dengan 16 Juli 622, ada yang menetapkan 15 Juli 622. Dengan cara demikian dalam selang waktu 30 tahun pertama, kedua dst terdapat 19 tahun yang terdiri dari 354 hari atau tahun basit dan 11 tahun yang terdiri dari 355 hari atau tahun kabisat. Rata-rata sebulan hisab Urfi terdiri dari [11 x 355 + 19 x 355]/(30 x 12) = 10631 hari/360 = 29.530556 hari (bandingkan dengan 1 bulan sinodis rata-rata = 29.53059 hari). Atau dengan kata lain hisab Urfi akan lebih lambat sehari dalam sekitar 2400 tahun (hijriah).

Dalam sistem hisab Urfi acuan pergantian bulan dipergunakan hilal rata-rata sedang dalam sistem hilal global acuannya adalah hilal yang pertama kali bisa diamati di suatu tempat dan dipergunakan untuk seluruh dunia. Sistem Hilal Global, Hisab Hakiki atau Imkan Rukyat tidak memerlukan aturan untuk mengkoreksi keterlambatan atau kelebihan hari dalam kalendernya. Kalau dalam hisah urfi Ramadhan selalu terdiri dari 30 hari, maka dalam hisab Hakiki, Imkan Rukyat atau Hilal Global satu Ramadhan bisa terdiri dari 29 atau 30 hari.

Umat Islam hidup dalam dua sistem kalender, Syamsiah (Masehi) dan Qamariah (Hijriah), yang mempunyai ritme sedikit berbeda. Dalam kalender Syamsiah pergantian tanggal dan hari berlangsung bersamaan pada tengah malam, sedang dalam penanggalan Qamariah (Hijriah) pergantian hari dan tanggal pada waktu Maghrib. Tempat-tempat dengan bujur yang sama belum tentu berganti tanggal atau hari Qamariah yang bersamaan, boleh jadi satu tempat mendahului yang lain. Satu hari dalam kalender Hijriah bisa lebih panjang ataupun pendek dari 24 jam (matahari). Penyatuan penggunaan Kalendar Islam bisa ditempuh melalui penyadaran konsep kalender Qamariah yang konsisten, pergantian bulan Islam mengikuti ritme pergantian tanggal dan hari yang menyandarkan pada terbenam matahari seperti yang dipergunakan selama ini. ”Aturan” selama ini memberi peluang stiap negeri bisa menetapkan pergantian bulan Islam berdasarkan visibilitas hilal dan kriteria visibilitas hilal yang dipergunakan sebagai acuan penetapan awal bulan Islam dikomunikasikan bersama. Bila hilal global dipergunakan sebagai acuan siapa yang akan menentukan bahwa hilal pergantian awal bulan telah ada? Pengalaman mengatakan bahwa informasi visibilitas hilal lewat internet kadang-kadang dapat menyesatkan, hilal berhasil disaksikan sebelum waktu ijtimak. Bila kekeliruan semacam ini masih terjadi berita internet atau telepon walaupun cepat diperolehnya akan menambah masalah. Misalnya dikabarkan hilal telah berhasil dirukyat di Yaman, Libya, dan Aigeria pada hari Selasa 7 Desember 1999 dan hari Rabu 8 Desember 1999 awal shaum Ramadhan 1420 H, berita pengamatan hilal tersebut sebelum berlangsung ijtimak, berita semacam ini mengandung kekeliruan, karena hilal belum lahir, pengamatan hilal dilakukan sebelum ijtimak berlangsung. Ahli rukyat yang profesional dan saksi ahli sangat diperlukan terutama untuk hilal yang sangat sukar disaksikan (hilal yang kurang dari 20 jam dari waktu ijtimak). Prosedur pencatatan para saksi di beberapa tempat terpisah dan di lokasi pengamatan hilal oleh ahli rukyat perlu merekam informasi keadaan cuaca, temperatur, kelembaban, warna langit dan warna hilal, bentuk hilal, arahnya, ukuran hilal dan berapa lama diamati. Memang nampaknya menjadi lebih rumit, namun mengingat bahwa hasil visibilitas hilal menentukan masalah halal dan haram serta persatuan umat, perlu ada ihtiar yang lebih serius mengenai rukyat. Walaupun obyek bulan dan matahari masing-masing hanya satu obyek namun fenomena pengamatan hilal tidak selamanya mudah, ketidakmudahan ini yang menjadi penyebab keunikan kalendar Islam juga tidka dapat segera terwujud.

Masalah yang sering dihadapi dalam rukyat adalah konsistensi visibilitas hilal, masih terdapat kontroversi pengamatan hilal antara yang berhasil dan tidak berhasil dalam suatu lokasi yang sama atau lokasi pengamat yang berbeda. Hasil pengamatan hilal dari berbagai lokasi di bumi diharapkan konsisten. Belum ada cara efektif untuk memastikan hasil pengamatan hilal yang tidak mengandung kekeliruan. Walaupun upaya teknologi dengan menggunakan rekaman pengamatan hilal telah dilakukan namun upaya teknologi belum memperlihatkan tanda-tanda keberhasilannya, karena tingkat kesulitan di lapangan dan ekonomisasi peralatan yang diperlukan. Penolakan hasil pengamatan hilal yang berhasil namun kontradiksi dengan teori dan pengalaman rukyatul hilal lainnya adalah sesuatu yang tidak mudah.

Pengamatan hilal tetap harus mengindahkan aspek lokal, posisi suatu tempat di permukaan bumi. Pelatihan astronomi tentang pengamatan hilal melalui mata bugil memerlukan partisipasi banyak pihak agar kekeliruan demi kekeliruan bisa dikurangi dan ditiadakan. Pengamatan hilal yang tidak berkaitan dengan penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah sebaiknya secara konsisten dilakukan selain untuk pengetahuan manusia juga untuk konsistensi kalender Islam. Secara naluri pemikiran manusia ”melihat” bahwa penampakan hilal mempunyai regularitas atau keteraturan oleh karna itu manusia memfokuskan tenaga dan pikirannya untuk memperoleh aturan penampakan hilal melalui sekumpulan hasil pengamatan hilal. Pemahaman visibilitas hilal oleh astronom atau ilmuwan kemudian dapat didekati melalui dua aspek, perkembangan pengetahuan tentang orbit bulan dan geometri visibilitas hilal dan pendekatan empiris-global untuk pengujiannya.

Oleh karena itu selain ahli rukyat mengupayakan hasil rukyat yang tidak mengandung kekeliruan, karena hal ini akan berdampak pada kehidupan dalam masyarakat luas adalah tantangan fuqaha mensepakati penggunaan kriteria visibilitas hilal sebagai acuan pergantian awal bulan Islam. Data pengamatan atau empiris tentang hilal yang keliru atau tidak lengkap dapat merambat pada kekeliruan hasil analisis yang disandarkan oleh data empiris tersebut. Kehati-hatian dalam menilai hasil pengamatan empirik dengan mata bugil tanpa rekaman memang tidak mudah dan pada akhirnya apabila dipaksakan dalam menggunakan data empirik tersebut hanya menyandarkan pada kepercayaan dan reputasi profesionalisme seseorang pengamat hilal.

Schaefer, Ahmad dan Dogget mengkaji ulang beberapa hasil pengamatan hilal abad 19 dan 20 melalui data tanggal pencatatan keberhasilan pengamatan hilal termuda dan kondisi cuaca dan lokasi pengamat. Pengkajian tersebut berkesimpulan bahwa beberapa catatan data pengamatan tersebut tidak dapat dipercaya karena kontradiksi secara teoritis dan tidak konsisten dengan hasil empirik pengamatan hilal lainnya. Pengamatan ulang hilal yang bersifat independen, tanpa melibatkan hasil pengamatan hilal yang terdahulu juga sangat diperlukan. Cara ini menempati peran untuk menguji konsistensi melalui pendekatan secara terpisah. Agar pengambilan kriteria visibilitas hilal dapat dilakukan dengan baik. Penyatuan kalender Islam sedang berjalan, sosok kalender Islam bergantung pada kesepakatan fuqaha dalam menggunakan hilal sebagai pergantian bulan Islam. Ahli rukyah atau pemburu hilal dapat saling melengkapi pengetahuan tentang visibilitas hilal dengan ahli hisab maupun astronom mengingat bahwa hasil visibilitas nilai menentukan masalah halal dan haram serta persatuan umat, perlu ada ikhtiar yang lebih serius mengenai rukyat.

Advertisements

2 thoughts on “Penyatuan Kalender Islam Tantangan Dunia Astronomi, Fuqaha dan Ahli Rukyat

  1. DARI ALBI FITRANSYAH

    UMAT ISLAM SELURUH DUNIA, GUNAKANLAH RUKYAT KOTA

    KONSEP RUKYAT KOTA YANG TERINTEGRASI SELURUH KOTA-KOTA DI DUNIA

    Assalamu’alaiukum.
    Saya seorang astronomi & matematika.
    Berdasarkan pemahaman saya & kesepakatan dari ahli astonomi muslim , bahwa ada beberapa ketentuan internasional mengenai penanggalan islam , yaitu:

    1. Rukyat hilal
    adalah dasar pergantian bulan-bulan qamariyah.

    2. Pola pergerakan Bumi, Bulan, dan Matahari telah menyebabkan belahan Bumi yang pertama kali mengalami rukyat hilal selalu berubah-ubah setiap bulan.

    3. Umur bulan qamariyah secara syar’i adalah 29 atau 30 hari.

    4. Umur tanggal adalah setara dengan umur hari, yakni 24 jam, karena tidak logis ada tanggal yang umurya hanya beberapa jam saja atau adanya keragu-raguan, sebanarnya setelah lewat maghrib, masih tanggal berapa sih? Apa sudah tanggal baru atau masing tanggal lama.

    5. Saat pergantian tanggal di dalam kalender qamariyah adalah pada waktu ghurub Matahari .

    Dalam Muktamar ke-30 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Lirboyo tahun 1999, rukyat internasional menjadi salah satu agenda bahasan Bahtsul Masail Diniyah. Permasalahannya adalah apakah boleh penentuan awal bulan qamariyah atau hijriyah, khususnya Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah, didasarkan atas rukyat internasional?
    Dengan pendekatan fiqh, muktamirin memutuskan bahwa penggunaan rukyat internasional untuk penentuan awal bulan qamariyah dengan mengenyampingkan batas-¬batas matla’ dan batas-batas kesatuan wilayah hukumah (pemerintahan) tidaklah dibenarkan.

    Di dalam wacana fiqh, jawaban untuk masalah ini diwakili oleh dua teori, yakni teori ittifaq al-Matali’ yang disusun oleh mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali, dan teori ikhtilaf al-Matali’ yang dibangun oleh mazhab Syafi’i. NU, sebagai ormas keagamaan Islam yang akrab dengan belukar pemikiran fiqh mazhab Syafi’i, tentu saja condong berpegang pada teori ikhtilaf al-mntali’.
    Menurut teori ittifaq al-Matali’, peristiwa terbit hilal yang dapat dirukyat dari suatu kawasan Bumi tertentu mengikat seluruh kawasan Bumi lainnya di dalam mengawali dan menyudahi puasa Ramadhan. Dasarnya ialah bahwa sabda Nabi Muhammad SAW: Sumu liru’yatihi… (berpuasalah kalian karena melihat hilal), itu ditujukan untukseluruh umat secara umum, sehingga apabila salah seorang dari mereka telah merukyat hilal, di belahan Bumi mana pun ia berada, maka rukyatnya itu berlaku juga bagi mereka seluruhnya.
    Sedangkan menurut teori ikhtilaf al-Matali’, rukyat hilal itu hanya berlaku untuk kawasan rukyat itu sendiri dan untuk semua kawasan lainnya yang terletak di sebelah baratnya. Sedangkan untuk sebelah timurnya, rukyat hilal itu hanya berlaku bagi kawasan yang berada di dalam atau tidak melampaui ¬batas matla’.

    Rukyat di suatu kawasan, menurut teori ini, tidak dapat diberlakukan untuk seluruh dunia karena, pertama, berdasarkan riwayat Kuraib yang ditakhrij oleh Imam Muslim, bahwa Ibnu Abbas yang tinggal di Madinah menolak berpegang pada rukyat penduduk Syam kendati telah diisbat oleh khalifah Mu’awiyah. Ibnu Abbas mengemukakan alasan, Hakadza Amarana Rasulullah (Begitulah Rasulullah menyuruh kami). Kedua, adanya perbedaan terbit dan terbenam Matahari di pelbagai kawasan di Bumi menyebabkan tidak mungkin seluruh permukaan Bumi disamaratakan sebagai satu matila’.
    Karena “ajaran” perbedaan matla’nya inilah, teori ikhtilaf al-Matali’ dengan mudah dipersepsi sebagai biang terjadinya perbedaan hari dalam memulai maupun mengakhiri puasa Ramadhan di berbagai kawasan di Bumi. Bahkan, lebih jauh, teori ini pun kemudian dituding sebagai pemicu perpecahan umat
    Maka, dalam beberapa tahun terakhir ini muncul di kampus-kampus gerakan untuk memasyarakatkan teori ittifaq al-Matali’ (kesatuan matla’ intemasional) yang diharapkan menjadi jurus pamungkas pemersatu awal dan akhir Ramadhan di seantero dunia. Malah bila perlu, untuk menuju kesatuan waktu ibadah tersebut kaum muslimin digalang untuk bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam sejagat (khilafah).
    Tapi persoalannya, logiskah perintah Nabi SAW, Sumu liru’yatihi… itu difahami sebagai dalil yang menghendaki berlakunya rukyat secara intemasional? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihatnya dengan pendekatan yang proporsional.

    Pertama, kiranya kita sepakat bahwa hadis kandungan di atas adalah petunjuk tentang penentuan waktu memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan. Karena berkenaan dengan waktu, maka pemahaman akan implementasinya haruslah menggunakan logika sistem perjalanan waktu, bukan logika pengertian bahasa.

    Kedua, sunnatullah tentang sistem perjalanan waktu di Bumi adalah bersifat setempat-setempat (lokal), tidak bersifat global. Waktu di Bumi mengalir dari timur ke barat sejalan dengan aliran siang dan malam. Kawasan di timur mengalami syuruq dan ghurub Matahari lebih dulu daripada kawasan di barat. Semakin jauh jarak barat-timur antar kedua kawasan, semakin besar beda waktu antara keduanya. Maka, orang yang melakukan perjalanan jauh, melepaskan diri kawasan tinggalnya, akan menghadapi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan beda waktu.
    Dengan begitu, semua waktu yang disebut di dalam dalil-dalil syari’at logisnya adalah dipahami sesuai logika sistem perjalanan waktu di Bumi yang bersifat setempat-setempat itu. Kalau pada saat ghurub Matahari di Indonesia hilal belum bisa dirukyat, adalah tidak logis kalau kita kemudian mengikuti rukyatnya orang Mekah. Sama persis tidak logisnya dengan memahami masuknya waktu Zuhur untuk Indonesia pada kira-kira pukul 4 sore karena mengacu pada “tergelincir Matahari” nya Mekah, atau pada kira-kira pukul 10 pagi karena mengikuti “tergelincir Matahari”nya Tokyo.

    Kasus:

    a. Dalam kaitannya dengan penampakan hilal, di Indonesia pada tanggal 11 Oktober 2007 terdapat 2 daerah yang dipisahkan oleh sebuah garis, sebut saja garis batas wujdul-hilal untuk mudahnya(lihat gambar).

    b. Daerah sebelah barat garis batas wujdul-hilal dipastikan (insya Allah) hilal sudah dapat dilihat.

    c. Daerah sebelah timur garis batas wujdul-hilal dipastikan (insya Allah) hilal belum dapat dilihat.

    Dengan demikian bila rukyat dilakukan di Jakarta (sebelah barat garis batas wujdul-hilal) pada tanggal 11 Oktober 2007 di waktu magrib, maka hasilnya menyimpulkan bahwa besoknya (tanggal 12 Oktober 2007) adalah 1 Syawwal 1428 H. Tetapi kalau rukyat itu dilakukan di Samarinda atau Menado atau Ambon yang letaknya di sebelah timur garis batas wujdul-hilal maka hasilnya, insya Allah, menyimpulkan bahwa besoknya (tanggal 12 Oktober 2007) belum 1 Syawwal.

    Butir kedua prinsip kesatuan wilayatul-hukmi essensinya mengatakan bahwa Muhammadiyah menganut prinsip “hanya ada satu Lebaran untuk satu negara”. Prinsip ini nampaknya dianut juga oleh kubu rukyat dan kubu Pemerintah. Buktinya, sepanjang sejarah kubu-kubu ini tidak pernah menetapkan dua daerah Lebaran di Indonesia. Catatan: Dua wilayah hari Raya tidak sama dengan hari Raya ganda. Hari Raya ganda maksudnya ada dua hari Raya untuk satu tempat.

    Isu Utama dan Isu Minor
    Sepanjang pengamatan kami, ada isu yang dihembuskan sebagai isu utama sebagai sumber perbedaan dalam menyimpulkan akhir/awal Ramadan, yaitu masalah definisi hilal. Isu ini minor karena kesepakatan dapat dilakukan dengan mudah jika kedua pihak-pihak yang berbeda pendapat ini keluar dan melihat hilal secara langsung dan sepakat benda itulah yang disebut hilal. Isu yang lebih utama lagi sebenarnya adalah prinsip kesatuan wilayatul hikmi. Secara kenyataan bahwa Indonesia tahun ini akan mempunyai dua zona penampakan hilal. Ini akan menimbulkan persoalan bukan saja bagi kubu hisab tetapi juga kubu rukyat kalau metodanya menggunakan prinsip kesatuan wilayatul hukmi. Lalu bagaimana menyatukannya? Apakah 1 Syawwal mengikuti daerah yang sudah ada penampakan hilal atau harus tunggu sampai semua daerah sudah ada penampakan hilal? Apapun keputusannya hasil akhirnya akan bersifat “tanpa dasar yang logis” (arbitrary). Jangan heran kalau pendapat ulama, bahkan imam mazhab berbeda-beda. Menurut Imam Hanafi dan Maliki, kalender kamariah harus sama di dalam satu wilayah hukum suatu negara, inilah prinsip wilayatul hukmi. Sedangkan menurut Imam Hambali, kesamaan tanggal kamariah ini harus berlaku di seluruh dunia, di bagian bumi yang berada pada malam atau siang yang sama. Sementara itu, menurut Imam Syafi’i, kalender kamariah ini hanya berlaku di tempat-tempat yang berdekatan, sejauh jarak yang dinamakan mathla’. Inilah prinsip matlak madzhab Syafi’i.

    Yang menarik adalah pendapat Ibn Abbas, salah satu ulama yang pernah hidup di masa Rasullulah. Riwayat Kuraib yang diceritakan oleh Muslim bahwa Khalifah Mu’awiyyah di Damaskus shaum/puasa pada hari Jumat sementara Ibnu Abbas di Madinah shaum/puasa pada hari Sabtu. Ketika Kuraib bertanya kepada Ibnu Abbas kenapa tidak berbarengan saja dengan Mu’awiyyah, Ibnu Abbas r.a. menjawab : “Tidak, beginilah Rasulullah saw, telah memerintahkan kepada kami”. Yang dimaksud oleh Ibnu Abbas tentu saja hadist nabi saw yang dikutip di atas. Padahal Damaskus dan Madinah waktu itu masih dalam satu wilayah hukum/satu kekhalifahan.

    Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada ayat al-Quran atau hadist yang bisa dikatakan memenuhi persyaratan cukup untuk menunjang konsep prinsip kesatuan wilayatul hukmi Ada hadist yang kadang diajukan sebagai dalil untuk penerapan prinsip kesatuan wilayatul hukmi, yaitu:

    Bahwa seorang Arab Baduwi datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata: “Saya telah melihat hilal (Ramadhan)”. Rasulullah saw. lalu bertanya: “Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah?” Orang itu menjawab,’Ya.’ Kemudian Nabi SAW menyerukan: “Berpuasalah kalian” (HR. Abu Dawud, An Nasa`i, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas).

    Tetapi hadist ini tidak bisa memenuhi syarat cukup sebagai dasar argumen untuk penerapan prinsip kesatuan wilayatul hukmi. Dalam hadist ini tidak disebutkan adanya isu perbedaan zona penampakan hilal. Apakah orang badui ini melihatnya di tempat yang jauh dari Madinah (tempat tinggal rasullulah) yang memungkinkan adanya perbedaan zone penampakan hilal? Tidak ada penjelasan

    Dengan kata lain, dasar hukum penggunaan prinsip kesatuan wilayatul hukmi tidak ada mempunyai persyaratan yang cukup. Para mazhab tidak punya kesamaan dan tidak diatur dalam hadist atau al-Quran.

    Pertama harus diakui bahwa tidak benar cara hisab dan rukyat adalah isu utama dari perbedaan hasil penentuan 1 Syawwal.

    Kedua harus diakui bahwa prinsip kesatuan wilayatul-hukmi adalah salah tempat dan salah applikasi. Prinsip kesatuan wilayatul-hukmi sebagai opini ulama, tidak bisa membatalkan hadist untuk menentukan akhir puasa (shaum) atau al-Quran untuk menentukan tanggal. Oleh sebab itu di Indonesia yang wilayahnya membentang sangat lebar (5,271 km) dan luas (1,919,440 km persegi) tidak mungkin selalu diberlakukan 1 hari Lebaran, tanpa melanggar juklak dari rasullulah (hadist nabi) dan pedoman al-Quran. Kadang-kadang Lebaran di Jakarta dan di Menado berbeda. Seperti halnya waktu sholat, waktu puasa dan Iedul Fitri tidak perlu sama untuk semua wilayah republik Indonesia. Jadi tahun ini ada dua wilayah Iedul Fitri di Indonesia, bukan dua Lebaran. Wilayah pertama adalah sebelah barat garis batas wujdul-hilal seperti kepulauan Tanibar, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat serta daerah-daerah di sebelah baratnya akan berhari Raya pada tanggal 12 Oktober 2007. Selebihnya dibagian timur akan berhari Raya pada tanggal 13 Oktober 2007).

    Kesimpulan:

    1. Di dalam kalender Islam terdapat garis tanggal wujudul hilal, yang dapat membelah bumi dengan posisi kemiringan tertentu. Sehingga selalu, dari batas garis wujudul hilal tersebut ke arah barat , kemungkinan melihat hilal semakin mungkin.

    2. Garis tanggal pembeda di atas pada setiap bulan dalam penanggalan Islam akan berubah-ubah letak dan posisinya. Jadi, bisa saja membelah suatu negara yang sangat luas.

    3. Seharusnya, dalam menentukan awal bulan, dalam hal ini penanggalan Islam, hendaknya saya mengusulkan agar, membuat DAFTAR KOTA-KOTA YANG SUDAH MASUK TANGGAL 1 ATAU BELUM. Misal:

    -Daftar kota-kota di seluruh dunia yang sudah masuk tanggal 1 adalah:
    Jakarta, Tanggerang, Pontianak, Padang, Medan, Aceh, Kuala Lumpur, Penang, Bangkok, New Delhi, Jeddah, Riyadh, Mekkah, Madinah, Kairo, London, dan seterusnya sampai ke barat sampai bertemu di titik garis wujudul hilal kembali>

    -Daftar kota-kota di seluruh dunia yang belum masuk tanggal 1 adalah:
    Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Ujung Panjang, Jayapura, Tokyo, terus ke barat sampai bertemu di titik garis batas wujudul hilal tadi

    Sehingga, saya atas nama ahli falaq mengusulkan kepada Pemerintah Republik Indonesia, Departemen Agama RI, agar jika garis tanggal Wujudul hilal melewati Negara Indonesia, maka harus dilakukan pembagian wilayah waktu tanggal, seperti disebutkan sebelumnya.

    4. Tidak menjadi masalah dalam 1 negara terdapat 2 penanggalan yang berbeda . Tetapi dalam 1 kota diharuskan berada pada hari yang sama.

    5. Berdasarkan garis wujudul hilal di atas, kota-kota yang belum dapat melihat hilal tadi pada Ghurub Maghrib di tempat terbitnya hilal pertama kali, secara ilmiyah, pasti besoknya pada Ghurub matahari hari berikutnya pasti hilal akan nampak juga.

    6. HIZBUT TAHRIR, adalah salah. Jika kita akan menggunakan penanggalan apapun, pastinya harus ada garis tanggal yang membelah bumi menjadi 2 bagian yang berbada.

    7. HIZBUT TAHRIR telah mencampur adukkan penanggalan Islam dengan penanggalan Masehi.

    8. HIZBUT TAHRIR tidak memahami syarat-syarat penanggalan.

    9. Dengan menggunakan dan mengetahui garis tanggal wujudul hilal, maka tidak akan mengalami kekacauan penanggalan.

    10. Meskipun dunia telekomunikasi, internet, satelite, telah maju, sehingga seluruh dunia dapat menerima kabar hilal di suatu tempat, maka :
    JANGAN MEMEBRIKAN INFORMASI MUNCULNYA HILAL DI SUATU KOTA KEPADA ORANG YANG BERADA DI SEBELAH TIMUR.
    BERITAKANLAH KABAR MUNCULNYA HILAL KEPADA KOTA-KOTA YANG BERADA DI SEBELAH BARATNYA.

    11. Bumi adalah bulat. Tidak Datar.

    12. Jika tidak ada garis tanggal wujudul hilal, maka akan kacaulah penanggalan islam yang digunakan.

    13. HIZBUT TAHRIR TIDAK MEMAHAMI KAJIAN ILMIYAH ASTRONOMIS YANG ADA

    14. Seperti halnya, jadwal sholat, yang mana setiap kota di seluruh Indonesia berbeda-beda. Di Jakarta, maghrib jam 18.00 WIB, sedangkan di Bandung maghrib jam 17.55 WIB. Di Jogja maghrib jam 17.46 WIB.
    Jadi, dalam hal ini wujudul hilal sebagai pembelah bumi juga harus ada.

    MATEMATIKAWAN, & ASTRONOMER MUSLIM, ALBI FITRANSYAH,S.Si

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s